Postingan

Tanpa Sadar

Karunia terbesar Tuhan yang diberikan pada hamba-Nya adalah diri manusia itu sendiri. Ada manusia yang tercipta kecil, ada yang besar, ada yang dengan anggota tubuh sempurna, ada pula yang mempunyai kekurangan. Ada yang berkaki dua, ada yang berkaki empat, ada yang tidak memiliki kaki mungkin. Bukan sesuatu yang tidak wajar, ya,,, memang manusia memandang itu adalah suatu cemooh, menganggap hal semacam itu adalah aib. Tapi apakah manusia tahu maksud Tuhan mengapa ia tercipta seperti itu? Adakah yang tahu mengapa Tuhan memberi satu tangan? Tidak pernah mengerti. Kalau dilihat oleh mata, dengan empat kaki itu manusia terlihat mengerikan. Yang tak mempunyai kaki itu pun menjijikkan. Tapi jika hati yang melihat, semua hal itu adalah pelajaran. Mereka yang dengan satu kaki, satu tangan atau bahkan tanpa kaki, atau tanpa tangan, bisa melakukan semua hal. Yang diberi lebih dengan empat kaki yang dianggap mengerikan, bisa melakukan hal yang lebih. Bagai mana dengan manusia yang sempurna fisik...

Lebih Karena

Jika ada satu hal baik tertanam dalam hati, maka buatlah dan wujudkan hal baik itu. Namun jika semua terasa berat tak perlulah ada rasa emosi, karena emosi itu membuang semua kebaikan yang ada. Satu mimpi terbesar sudah tersusun rapi dalam angan. Wujudkan mimpi itu dan buat seindah mungkin dengan cara terbaik. Jikalau memang semua berjalan berat, tak haruslah ada rasa amarah. Karena amarah akan membuat semua mimpimu berubah. Jikalau ada satu hal buruk, itu bukanlah dari orang disekitarmu. Tapi lebih tepat itu karena burukmu. Yang dirasa tak baik bukan dari orang yang menjahati, namun lebih karena rasa jahat yang tertanam dalam hati. Yang dilihat kurang pantas bukan dari siapa pelakunya, namun tak jauhlah dari prasangka hatinya sendiri. Bukan soal membela yang salah, tapi lebih dari menyadari setiap kesalahan. Kesalahan bukan dari Tuhan, karena Tuhan memang tak pernah salah. Hanya sebuah ilusi, ketika kesulitan itu dirasa dalam hati. Semua kekacauan tak lain dari diri sendiri, karena...

Ketakutan Dalam Sebuah Pilihan

Aku takut jikalau nanti aku melangkah aku terjatuh. Aku takut, kalau aku nanti memilih akan menjadi salah. Aku tak berani jikalau nanti di setiap hal yang kutemui akan sulit. Aku takut kalau aku tidak mampu dengan semua kekacauan itu. Berat sepertinya akan kuhadapi. Lagi pula aku tidak punya kemampuan untuk semua hal itu. Aku lemah, aku tidak memahami, aku tidak tahu semua yang ada disana. Aku trauma dengan segala yang telah kulalui, trauma kalau saja kesalahan yang pernah lalu itu terulang lagi. Perihal yang sering dialami, adalah ketika rasa takut itu datang sebelum benar-benar tindakan yang kita miliki terjadi. Satu pilihan kadang terbuang saat itu. Pada waktu dimana rasa takut terus menderu dalam hati. Sebenarnya hal yang ditakutkan belum tentu juga akan datang. Tapi karena mata sering melihat hal yang tak ingin dirasa, hati sering takut kalau hal itu terjadi. terlalu dini menilai suatu keadaan, sampai yang belum dilalui sudah dirasa tak karuan. Kadang ketika masa belajar telah u...

Tahukah Kamu Tentang Mereka

Sudahkah engkau ketahui, sebuah kisah lama tentang orang tuamu. Kisah tentang bagaimana ia belajar. Kisah tentang bagaimana ia pertama kali bekerja. Kisah tentang pengalaman mereka saat mereka mulai bingung menghadapi masalah mereka. Atau kisah tentang bagaimana mereka berusaha agar engkau tidak melihat keluhan mereka saat ingin membahagiakanmu. Mungkin engkau tahu, beberapa hal yang kau lihat pada mereka. Mungkin kamu memahami sebagian kecil kisah yang sengaja mereka bagikan. Tapi tahukah, berjuta hal lain yang sengaja ia tutupi darimu. Dan tahukah, karena semua itu engkau bisa terus tersenyum sampai saat ini. Mereka tidak berbagi bukan karena mereka tak mau. Mereka menyembunyikan bukan karena mereka tak peduli. Sama seperti apa yang selama ini sering engkau rahasiakan pada mereka. Engkau tak ingin mereka kecewa jikalau mereka tahu tentangmu lebih jauh. Engkau tak ingin apa yang kamu sembunyikan itu mereka ketahui, karena kau ingin kebahagiaan mereka. Mereka pun pernah sepertimu, m...

Kepuasan Hati

Kalau aku seorang anak, apakah orang tuaku akan bahagia dengan keadaanku sekarang. Kalau aku adalah orang tua, akankah anakku akan bahagia dengan keadaanku sekarang. Jika aku seorang kakak, nyamankah adikku dengan k eadaanku sekarang. Jikalau aku seorang adik, maukah kakakku berbagi sedikit tawa bersamaku saat ini. Kalau aku bukan siapa-siapa, bisakah orang lain menerima keadaanku yang sekarang. Pertanyaan hati yang selalu membangun diri untuk terus membenahi dirinya. Yang kadang itu dilupakan. Kadang hati merasa telah melakukan hal yang baik, telah memberi sesuatu yang begitu banyak pada mereka. Hati merasa ia telah melakukan sesuatu yang itu seharusnya mendapat satu balasan setimpal. Padahal dalam kebenarannya ia tak pernah tahu hal apa yang telah mereka berikan kepadanya. Ia tak akan puas dengan apa yang mereka beri, padahal kepuasan mereka adalah sedikit dari hal yang ia beri pada mereka. Ia terus meminta, namun mereka terus khawatir sudah cukupkah yang mereka berikan. Sering pr...

Mencari Suatu Kebenaran

Harus berapa kali aku terus meminta sesuatu yang tak semestinya. Aku tahu bukan kepadanya aku berharap, bukan kepadanya aku menggantungkan keinginan. Karena dia pun punya harapan yang sama sepertiku, dia bukan pengkabul harapan, dia pun bukan pewujud semua keinginan. Dia hanyalah perantara pada sebagian kuasa Tuhan. Dia hanya satu perantara saat setitik keinginan itu kumiliki, dia membawanya tapi itulah yang Tuhan titipkan. Dia membawa setitik jawaban dari harapanku, namun juga membawa berjuta harapan yang ia miliki untukku. Ia mengantar bukannya memberi, namun selebihnya adalah permintaan untuk sebuah balas budi. Harapanku terlalu banyak, dan mungkin kusampaikan harapan ini pada Tuhan, tapi bukan untuk-Nya. Aku berharap pada Tuhan, untuk seseorang, yang ia mungkin bisa tahu namun tak dapat memberinya, karena semua harapan hanya Tuhanlah semata yang mengabulkan. Manusia memang terlalu banyak memohon, terutama pada manusia lainnya. Benar ia meminta pada Tuhannya, tapi sasarannya sela...

Salahnya Hati

Ketika hati salah rasa di waktu itu seseorang lupa. Ia gelisah disaat kekasihnya tiada kabar. Ia risau saat pekerjaannya tak tuntas. Ia bingung dikala ada ujian yang tertinggal. Ia tak bisa tidur ketika tak ia dapatkan sepeser uang dari yang ia lakukan. Ia selalu saja terpikir oleh hal yang baru saja ia lihat. Seolah tak lagi ada kehidupan ketika hal yang ia inginkan tak bisa ia dapatkan. Tak sadar, perilaku yang sering ia lakukan. Semua hal yang ia rasakan selama itu adalah sesuatu yang menyimpang dari alur hidup yang sesungguhnya. Ia tahu kehilangan kekasih itu sedih, tapi ia lupa tak ada yang lebih menyedihkan dibanding kehilangan seorang ibu. Ia tahu meninggalkan pekerjaan adalah hal yang salah terhadap bosnya, tapi ia tak sadar, karena kesibukannya ia menjadi lupa terhadap orang tuanya. Ia tahu ketika apa yang ia lakukan tidak lagi dihargai orang, namun ia tak pernah ingat, ketika penghargaan ia capai disisi lain dia tak mendapatkan Tuhannya. Hati sering merasa senang, tapi kes...